Weda – Tanah Patani kembali bersimbah darah. Tragedi memilukan di Desa Bobane Jaya, Kecamatan Patani Barat, Halmahera Tengah, bukan sekadar angka kriminalitas biasa. Ini adalah luka menganga yang terus dikoyak tanpa ada penyembuhan yang tuntas. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ternate dengan tegas menyatakan: Hentikan normalisasi pembunuhan di daratan Patani!

Siklus Maut yang Tak Berujung

Kajian sosiologis dan keamanan menunjukkan bahwa pembunuhan di wilayah Patani bukanlah insiden tunggal yang jatuh dari langit. Ini adalah rentetan peristiwa sistemik yang seolah dibiarkan menjadi “tradisi kelam”. Air mata ibu-ibu di Patani dan darah para petani yang tumpah di tanah leluhur mereka terus mengalir, menjadi saksi bisu atas lambatnya keadilan bekerja.

“Negara tidak boleh kalah oleh teror. Jika hukum tumpul di hutan Halmahera, maka kepada siapa lagi rakyat harus mengadu?”

Teror Psikologis: Masyarakat Dalam Cengkeraman Ketakutan

Pembunuhan di Desa Bobane Jaya telah menghancurkan fondasi psikologis masyarakat. Ketakutan kini menjadi bayang-bayang setiap warga yang hendak melangkah ke kebun. Ketika rasa aman dicabut dari akar kehidupan rakyat, maka secara de facto, negara dianggap gagal hadir di sana. Kondisi trauma kolektif ini jika dibiarkan akan mematikan produktivitas dan tatanan sosial di Halmahera Tengah.

Kami tegaskan kepada Polda MALUT;
HMI Cabang Ternate tidak lagi sekadar “meminta”, kami menuntut langkah revolusioner dari Polda Maluku Utara:

Tangkap dan Adili Tanpa Kompromi: Kami mendesak Kapolda Malut untuk mengerahkan seluruh instrumen intelijen dan taktis guna menyeret pelaku pembunuhan Bobane Jaya ke hadapan meja hijau dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Audit Keamanan Jalur Hutan: Polda harus melakukan evaluasi total terhadap sistem pengamanan di wilayah rawan konflik dan jalur hutan Patani. Jangan biarkan hutan kami menjadi ruang hampa hukum.

Hentikan Retorika, Berikan Fakta: Masyarakat bosan dengan janji manis “penyelidikan mendalam”. Kami butuh tersangka, kami butuh kepastian hukum, dan kami butuh rasa aman yang nyata.

Jika Polda Maluku Utara tetap menunjukkan sikap apatis dan gagal menuntaskan tragedi ini, maka jangan salahkan jika gelombang mosi tidak percaya dari mahasiswa dan rakyat akan menggulung kredibilitas institusi kepolisian di Maluku Utara.

Patani adalah bagian dari kedaulatan kita. Menetesnya setetes darah warga Patani adalah tamparan bagi wajah penegak hukum di bumi Moloku Kie Raha.

Keadilan harus ditegakkan, meski langit runtuh!

Publikmalut.com
Editor