Ternate – Lambannya penanganan proses evakuasi mobil truk yang karam di perairan sekitar dermaga Ferry Sofifi, telah menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Sorotan ini juga kemudian datang dari Organisasi Kerukunan Sopir Lintas (KSL), Provinsi Maluku Utara (Malut).
Ketua Umum KSL Malut, Slamet Dasim, kepada media ini Minggu (8/2), menyesalkan sikap sejumlah instansi terkait yang memiliki tanggung jawab penuh atas stabilitas pelayanan di dermaga Ferry Sofifi, yang seakan tutup mata dan acuh tak acuh dengan kondisi tersebut. Hingga imbasnya antrian panjang kendaraan pun terjadi di seputaran dermaga Ferry Sofifi.
“Sudah kurang lebih lima hari kejadian ini terjadi namun hingga saat ini proses evakuasi mobil yang karam tersebut tak kunjung berakhir. Yang menjadi pertanyaan disini, “dimana pihak yang bertanggung jawab, seperti Dinas Perhubungan (Dishub) Malut, Dishub Tikep dan pihak pemilik armada yakni PT. Atosim Lampung Pelayaran (ALP),” pungkas Slamet.
Menurut, Slamet, persoalan evakuasi ini tidak terlalu rumit jika pihak-pihak terkait, seperti Dishub Malut selaku pihak yang bertanggung jawab atas ijin operasi kemudian Dishub Tikep selaku operator pelabuhan dan PT. ALP selaku pemilik armada Ferry, bekerja sama dan menangani evakuasi mobil dimaksud.
“Olehnya itu dalam kondisi ini kami menilai bahwa pihak yang bertanggung jawab penuh seperti Dishub Tikep dan PT. ALP, tidak serius bahkan tidak punya itikad baik untuk mempercepat proses evakuasi mobil tersebut, demi kelancaran dan serta stabilitas pelayanan publik khusunya di dermaga Ferry Sofifi,” ujar Slamet.

Slamet, menegaskan bahwa ketidakseriusan Dishub Tikep dan PT. ALP, dalam menangani proses evakuasi mobil tersebut telah membuat macet pelayanan di dermaga Ferry Sofifi. Dimana antrian panjang kendaraan roda 2 dan 4, menumpuk dalam terminal pelabuhan hingga tembus ke sepanjang jalan poros depan dermaga Ferry Sofifi.
“Kondisi ini kemudian mempengaruhi arus lalulintas di sepanjang jalan poros, akibat terjadi antrian panjang mobil truk TB pada bahu jalan dan ini menimbulkan kemacetan di jalan raya tersebut,” ungkap Slamet.
Lebih lanjut, Slamet, menjelaskan antrian panjang ini terjadi akibat pelayanan armada kapal Ferry tidak maksimal sesuai jadwal normal, karena harus menunggu hingga air pasang baru kapal Ferry bisa berlabuh di dermaga. Jika air laut surut kapal tidak bisa berlabuh dikarenakan terhambat dengan mobil yang karam, tepat di Pelengsengan dermaga tersebut.
“Kami tegaskan jika kondisi seperti ini tidak segera ditangani dengan cepat oleh pihak terkait dalam hal ini Dishub Tikep dan PT. ALP, maka kami pastikan akan menggandeng seluruh Organda untuk melakukan aksi pemboikotan di dermaga Ferry Sofifi, Sidangoli dan Ternate,” tegas Slamet.
Selain itu, Slamet, juga mendesak kepada pihak Dishub Malut agar segera meninjau kembali dan melakukan uji kelayakan kapal milik PT. ALP, dan segera mencabut ijin operasi armada sejumlah Ferry milik PT. ALP, yang sudah tidak layak pakai seperti KMP. Permata Lestari V dan KMP. Aeng Mas, agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.








Tinggalkan Balasan