Halsel – Rencana penyelenggaraan pembukaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kecamatan tahun 2026 yang digulirkan Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) menjadi sorotan tajam publik. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung di Desa Laromabati, Kecamatan Kayoa Utara pada tanggal 26 April 2026 tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Halsel, saat memimpin upacara hari disiplin pegawai di lapangan kantor Bupati.
Keputusan ini menarik perhatian berbagai kalangan, tak terkecuali tokoh muda setempat, Fahrid Galitan, S.H., M.H. Menurutnya, penetapan jadwal tersebut merupakan pernyataan yang absurd dan mencerminkan ketidaktahuan akan kondisi riil di lapangan.
“MTQ bukan sekadar formalitas program atau agenda tahunan semata. Secara substansi, kegiatan ini bertujuan menciptakan nuansa religius yang membawa kesejukan dan nilai luhur bagi masyarakat. Oleh karenanya, kesiapan infrastruktur dan fasilitas penunjang mutlak harus dipastikan layak dan fungsional sebelum acara digelar,” tegas Fahrid dalam keterangannya.
Lebih jauh ia menegaskan, memaksakan pelaksanaan pembukaan sesuai jadwal yang diumumkan sama saja dengan membiarkan pekerjaan dilakukan secara serampangan. Mulai dari pembangunan panggung utama, pengaspalan jalan di Desa Laromabati, hingga instalasi air bersih, berpotensi dikerjakan tanpa memperdulikan standar kualitas hanya demi mengejar tenggat waktu.
“Saya tegaskan, jika tetap dipaksakan pada tanggal 26 April mendatang, maka besar kemungkinan hasilnya akan menjadi pekerjaan yang setengah hati dan jauh dari kata layak, hanya untuk sekedar terlihat selesai. Dengan sisa waktu yang sangat terbatas dan progres fisik yang belum mencapai 70 persen, adalah hal yang mustahil dan tidak logis untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan dengan hasil yang maksimal,” ujar Fahrid dengan nada tegas.
Oleh sebab itu, ia meminta Pemerintah Daerah Halsel untuk lebih berhati-hati dan objektif dalam menentukan waktu. Jangan sampai keinginan untuk cepat selesai justru melahirkan masalah baru atau hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.
“Sebagai putra asli Laromabati, rasa bangga tentu ada karena tanah kelahiran saya dipercaya menjadi tuan rumah. Namun, kebanggaan itu tidak boleh membutakan mata hati. Saya akan terus mengawal proses pembangunan ini, memastikan bahwa setiap rupiah yang digunakan adalah uang rakyat, sehingga hasilnya harus berkualitas, awet, dan benar-benar dapat dinikmati oleh masyarakat untuk jangka waktu yang panjang,” pungkasnya.



Tinggalkan Balasan