Ternate, 16 Juni 2026 – Memasuki 1 Muharram 1448 H, umat Islam di seluruh dunia menyambut Tahun Baru Islam bukan hanya sebagai pergantian angka kalender, melainkan momen refleksi, perenungan, dan pembukaan lembaran baru yang penuh makna. Di balik keheningan dan keikhlasan yang menyelimuti bulan yang dimuliakan ini, tersimpan pula kisah-kisah kehidupan yang mengajarkan tentang ketabahan—termasuk kisah cinta sejati yang diuji oleh takdir.
Bagi seorang lelaki yang memilih menyimpan namanya, bulan Muharram selalu membawa kenangan mendalam. Baginya, bulan yang dikenal sebagai bulan keamanan dan keberkahan ini menjadi saksi bisu perjalanan rasa yang ia bawa hingga kini. Ia pernah memiliki cinta yang tulus, di mana setiap langkah dan doa ia tujukan untuk kebahagiaan orang yang dicintainya. Cintanya bukan sekadar rasa sesaat, melainkan janji yang diikat dalam keyakinan untuk saling melengkapi, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dan melangkah bersama menuju tujuan yang sama.
Namun, takdir berbicara lain. Cinta yang ia jaga sepenuh hati harus berpisah karena kehendak Ilahi. Kehilangan itu terasa berat, meninggalkan ruang hampa yang tak mudah terganti. Namun seiring berjalannya waktu, ia memahami makna cinta sejati yang sesungguhnya: bukan soal memiliki selamanya di dunia, melainkan kemampuan untuk tetap mendoakan, merelakan, dan menjaga kesetiaan rasa meski terpisah jarak maupun keadaan.
“Cinta sejati tidak berakhir ketika perpisahan datang. Ia justru tumbuh menjadi doa yang tak pernah putus, menjadi pengingat bahwa apa yang ditakdirkan terpisah adalah bagian dari rencana yang lebih baik,” ujarnya dengan nada tenang. Baginya, Muharram mengajarkan bahwa setiap awal baru juga bisa menjadi tempat untuk menyembuhkan luka, memperkuat iman, dan meyakini bahwa cinta yang tulus akan bertemu kembali di tempat yang lebih abadi, jika itu menjadi kehendak-Nya.
Di tengah perayaan Tahun Baru Islam yang penuh makna, kisah ini mengingatkan kita semua: bulan Muharram bukan hanya tentang sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar berhijrah dari rasa sakit menuju ketabahan, dari kekecewaan menuju keikhlasan. Cinta sejati yang diuji oleh kehilangan justru akan menjadi lebih suci, karena ia diarahkan sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT.
Semoga di awal tahun Islam ini, setiap hati yang sedang merindukan atau merelakan dapat menemukan ketenangan, dan setiap cinta yang tulus mendapatkan balasan terbaik di dunia dan akhirat.







Tinggalkan Balasan