Labuha — Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke‑81 pada Senin, 17 Agustus 2026, menjadi momen kebanggaan luar biasa bagi masyarakat di sepanjang pesisir dan kepulauan Tahane, Kabupaten Halmahera Selatan. Di tengah gelora kemerdekaan, dua putri daerah berhasil meraih kehormatan besar: terpilih menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada upacara tingkat Kabupaten Halmahera Selatan.
Mereka adalah Aulia Tamara, siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Halmahera Selatan dari Desa Daori, Kecamatan Makian, dan Safria Sukedi K. Saleh, siswi Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 29 Halmahera Selatan dari Desa Laromabati, Kecamatan Kayoa Utara. Keduanya berhasil menembus proses seleksi yang ketat dan panjang, membawa serta harapan ribuan pemuda di wilayahnya.
Jalan menuju seragam Paskibraka itu sama sekali tidak mudah. Selama berbulan‑bulan, Aulia dan Safria bangun lebih pagi dari siapa pun, berlatih baris‑berbaris di bawah terik matahari maupun di tengah guyuran hujan. Mereka melatih ketegasan sikap, kejelasan suara, serta ketahanan fisik dan mental hingga batas kemampuan. Bukan sekadar keterampilan teknis yang diuji kedisiplinan, tanggung jawab, dan ketabahan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Jauh dari kenyamanan rumah, mereka bertahan dengan satu tekad: membawa nama baik daerahnya ke tempat yang terhormat.
Keluarga Aulia Tamara bercerita:
“Setiap pagi ia berangkat sebelum matahari terbit, dan pulang saat langit sudah gelap. Sempat kami khawatir, takut ia kelelahan atau menyerah di tengah jalan. Namun Aulia selalu berkata: ‘Ibu, saya ingin membuktikan bahwa anak desa juga bisa berdiri tegak di barisan terhormat.’ Hari ini, saat melihatnya mengibarkan Merah Putih di atas sana, hati kami bergetar, bukan semata karena bangga, melainkan karena tahu keringat dan air matanya tak sia‑sia. Ini bukan kemenangan Aulia saja, melainkan kebanggaan seluruh masyarakat Tahane. Keberhasilan ini juga menjadi kebahagiaan dan kebanggaan istimewa bagi almarhum ayahnya, yang telah mendahului kami.”
Sementara itu, orang tua Safria Sukedi K. Saleh menyampaikan:
“Kami hanyalah warga biasa di desa ini, tak pernah bermimpi anak kami akan berdiri di posisi yang begitu mulia. Berkali‑kali kakinya lecet, badannya gemetar menahan panas, namun ia tak pernah mengeluh sedikit pun. Ia berkata: ‘Saya ingin nama Laromabati, nama Kayoa Utara, nama Tahane terdengar di mana‑mana.’ Ternyata tekad yang tulus memang mampu mengangkat derajat kami. Terima kasih Safria, engkau sudah mengharumkan nama keluarga dan tanah air kecil ini.”
Dengan tulus keduanya menyampaikan pesan sederhana namun dalam: “Kami ingin membuktikan bahwa anak‑anak dari pulau‑pulau kecil pun mampu bersaing dan mengharumkan nama daerah.” Di balik ketegasan gerak mereka saat mengibarkan Bendera Merah Putih, tersimpan doa dan harapan agar perjuangan ini menjadi cahaya bagi generasi muda lainnya di pelosok Tahane.
Kini setelah tugasnya selesai dengan sempurna, keduanya pulang bukan sekadar sebagai pelajar biasa, melainkan sebagai kebanggaan bersama. Keberhasilan Aulia dan Safria membuktikan bahwa jarak, lokasi, dan keterbatasan bukan penghalang untuk meraih mimpi, selama disertai kerja keras, ketekunan, dan niat yang tulus.
Kehormatan yang mereka sandang bukan milik pribadi semata, melainkan milik seluruh masyarakat Tahane, Makian, Kayoa Utara, dan seluruh Halmahera Selatan. Semoga jejak yang mereka torehkan menjadi inspirasi abadi bagi adik‑adik generasi penerus: bahwa cita‑cita setinggi apa pun akan tercapai jika dijalani dengan semangat pantang menyerah, sebagaimana semangat para pendiri bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan hingga titik darah penghabisan.







Tinggalkan Balasan