Oleh: Yusril J Todoku
Warga Gane Barat Selatan.
Istilah “Buta dan Tuli” mungkin terdengar kasar, namun bagi masyarakat Kecamatan Gane Barat Selatan, itulah metafora yang paling tepat untuk menggambarkan kinerja para wakil rakyat di DPRD Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya mereka yang berangkat dari Daerah Pemilihan (Dapil) Gane barat selatan tersebut. Setiap periode berganti, wajah-wajah di kursi parlemen silih berganti, namun satu hal tetap abadi: infrastruktur jalan yang tidak tersentuh.
Infrastruktur: Jantung Ekonomi yang Terabaikan
Infrastruktur jalan bukanlah sekadar pelengkap estetika daerah. Bagi warga Gane Barat Selatan, jalan adalah urat nadi perekonomian. Bagaimana mungkin roda ekonomi bisa berputar cepat jika akses distribusi barang dan hasil bumi terhambat oleh karena tidak ada infrastruktur jalan?
Secara logika pemerintahan, perbaikan infrastruktur seharusnya menjadi prioritas karena berbanding lurus dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun sayangnya, logika ini nampaknya tidak berlaku bagi para legislator kita. Aspirasi yang diteriakkan masyarakat dalam setiap forum resmi maupun keluhan di akar rumput seolah menguap begitu saja sebelum sampai di meja pembahasan anggaran.
Siklus Janji Lima Tahunan
Kita semua akrab dengan ritual lima tahunan: kampanye. Di atas panggung-panggung politik, infrastruktur jalan selalu menjadi jualan utama. Janji-janji manis ditaburkan seolah-olah aspal akan langsung menghitam setelah pelantikan dilakukan.
Namun, realita yang terjadi adalah sebuah anomali politik yang menyakitkan. Begitu kursi jabatan diraih, janji-janji tersebut seakan terkena penyakit amnesia kolektif. Masyarakat pun mulai bertanya-tanya: Apakah perbaikan infrastruktur jalan Gane Barat Selatan sebenarnya masuk dalam program kerja DPRD, ataukah itu hanya sekadar “umpan” untuk memancing suara rakyat?
Menagih Kepekaan Sosial
Sikap abai yang ditunjukkan oleh Anggota DPRD Dapil Gane Barat Selatan mencerminkan krisis kepedulian. Satu dekade telah lewat, namun perubahan yang dijanjikan tetap menjadi mitos. Pembangunan yang timpang ini membuktikan bahwa Gane Barat Selatan masih dipandang sebagai lumbung suara semata, bukan sebagai subjek pembangunan yang setara dengan wilayah lain di Halmahera Selatan.
Rakyat tidak butuh retorika. Rakyat butuh bukti nyata berupa alat berat yang bekerja dalam melakukan infrastruktur jalan. Jika pada periode ini tetap tidak ada perubahan, maka jangan salahkan jika kepercayaan masyarakat akan runtuh sepenuhnya.
Sudah saatnya Anggota DPRD Hal-Sel Dapil Gane Barat Selatan membuka mata untuk melihat penderitaan rakyat dan membuka telinga untuk mendengar keluhan mereka. Jangan biarkan Gane Barat Selatan terus terisolasi dalam ketertinggalan, sementara kalian duduk nyaman di atas mandat yang kami berikan.



























Tinggalkan Balasan