Penulis : perempuan TEKNIK UNKHAIR TERNATE

Dunia keteknikan selama ini sering dicitrakan sebagai ranah maskulin yang didominasi oleh laki-laki. Namun, belakangan ini, pergeseran paradigma mulai terlihat dengan semakin banyaknya perempuan yang menempuh pendidikan di fakultas teknik dan terjun ke dunia industri profesional. Meski demikian, kehadiran mereka bukan tanpa hambatan; ada dinamika kompleks yang mempertemukan ambisi individu dengan tembok tebal tantangan struktural.

Tembok Tak Kasat Mata: Tantangan Struktural

Masalah utama yang dihadapi perempuan di bidang teknik bukanlah kapasitas intelektual, melainkan hambatan sistemik. Di banyak lingkungan kerja, budaya “klub laki-laki” masih sangat kental, yang sering kali secara tidak sadar meminggirkan peran perempuan dalam pengambilan keputusan strategis.

Selain itu, tantangan dual-role atau peran ganda tetap menjadi beban berat. Ekspektasi sosial yang menuntut perempuan untuk menjadi pengelola rumah tangga utama sering kali berbenturan dengan ritme kerja teknik yang menuntut mobilitas tinggi, kerja lapangan, dan jam kerja yang tidak menentu. Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai leaky pipeline, di mana banyak perempuan berbakat meninggalkan karier teknik mereka di jenjang menengah karena kurangnya sistem pendukung (seperti fasilitas penitipan anak atau kebijakan kerja fleksibel) di perusahaan.

Resiliensi dan Strategi Adaptasi;

Menghadapi realitas tersebut, para insinyur perempuan telah mengembangkan berbagai strategi adaptasi untuk bertahan dan berkembang. Salah satunya adalah melalui pembentukan jejaring profesional (networking). Bergabung dalam asosiasi profesi atau komunitas sesama perempuan teknokrat menjadi krusial untuk saling berbagi strategi navigasi karier dan memperkuat posisi tawar di hadapan manajemen.

Adaptasi juga dilakukan melalui pengembangan keahlian spesifik. Banyak perempuan di bidang teknik yang kini memperkuat kemampuan mereka di sektor manajemen proyek atau teknologi digital yang memungkinkan efisiensi kerja lebih tinggi. Mereka membuktikan bahwa ketelitian dan kemampuan komunikasi interpersonal—yang sering dianggap sebagai soft skill sekunder—justru menjadi kunci keberhasilan dalam mengelola proyek-proyek teknik yang kompleks.

Menuju Inklusivitas di Maluku Utara;

Melalui dari Hasil kajian keperempuanan teknik unkahir Ternate, pada Hari/Tgl Kamis 12 Maret 2026. Menyampaikan bahwa Khususnya di wilayah seperti Maluku Utara yang sedang mengalami akselerasi industri, peran perempuan dalam teknik sangatlah strategis. Kita tidak boleh membiarkan potensi intelektual setengah dari populasi kita terbuang hanya karena lingkungan kerja yang tidak inklusif.

Institusi pendidikan dan perusahaan industri harus mulai bekerja sama untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan. Ini bukan sekadar tentang kuota, melainkan tentang menciptakan ekosistem yang menghargai kompetensi tanpa memandang gender. Transformasi ini memerlukan komitmen kolektif, mulai dari kebijakan internal perusahaan hingga dukungan dari organisasi mahasiswa teknik di tingkat universitas.

Sikap dari kami perempuan TEKNIK UNKAHIR TERNATE, bahwasanya;

“Teknik bukan tentang kekuatan fisik semata, melainkan tentang ketajaman logika dan inovasi. Di sana, gender seharusnya menjadi sekunder dibandingkan kontribusi nyata.”

Publikmalut.com
Editor