Maba – Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Maluku Utara (Malut), Dr. Kasman Hi Ahmad, S.Ag., M.Pd, secara resmi melantik pengurus ICMI Organisasi Daerah (Orda) Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), Senin (23/2).

Pelantikan yang berlangsung khidmat tersebut turut dihadiri Bupati Haltim, Ubaid Yakub, Sekda Haltim, Ricky C.H. Richfat, Sekretaris ICMI Orwil Malut, dan jajaran pengurus ICMI, serta sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur.

Dalam sambutannya, Ayahanda Kace, sapaan akrab Dr. Kasman H. Ahmad, S.Ag., M.Pd, menegaskan bahwa ICMI yang lahir pada tahun 1990 ini dibangun di atas tiga wawasan utama, yakni wawasan keislaman, wawasan kecendekiawanan, dan wawasan kebangsaan. Ketiga pilar tersebut, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban dan memperkuat kontribusi umat bagi bangsa dan negara.

“Islam, bangsa, dan cendekiawan adalah tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam perjalanan ICMI. Inilah dasar lahirnya organisasi besar ini,” pungkas Ayahanda Kace, yang juga merupakan Ketua DPW PAN Malut tersebut.

Lanjut, Ayahanda Kace, selian itu ICMI juga memiliki lima pokok gerakan yang dikenal dengan konsep 5K, yakni Kualitas iman dan takwa, Kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), Kualitas pikir, Kualitas kerja, serta Kualitas hidup.

“Lima prinsip tersebut kemudian dijabarkan dalam 19 program strategis, termasuk riset dasar dan riset pengembangan yang menjadi fokus kontribusi para cendekiawan Muslim Indonesia,” ujarnya.

Pelantikan Pengurus ICMI Orda Haltim

Wabup Halut ini pun kemudian menjelaskan bahwa kepengurusan ICMI Malut saat ini diisi oleh figur-figur intelektual yang memiliki kapasitas dan komitmen kuat terhadap pembangunan daerah. Bahkan, beberapa waktu lalu ICMI Malut dipercaya Pemprov Malut, untuk melakukan riset terhadap empat kesultanan besar di wilayah tersebut, yakni Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, Kesultanan Bacan, dan Kesultanan Jailolo.

Ia menyampaikan bahwa riset tersebut dilatarbelakangi kegelisahan terhadap minimnya literatur sejarah lokal yang ditulis dari perspektif dan akar budaya sendiri. Selama ini, generasi muda lebih banyak mengakses referensi sejarah yang ditulis oleh penulis Eropa, sementara narasi lokal yang memiliki kemurnian historis dan kultural belum tergali secara maksimal.

“Karena itu kami melakukan riset secara serius, bahkan hingga menelusuri arsip di Belanda, Portugis, dan Spanyol untuk mengonfirmasi data sejarah. Tujuannya agar generasi mendatang mendapatkan referensi yang utuh dan berimbang,” bebernya.

Hasil riset tersebut lanjut, Ayahanda Kace, telah dibukukan dalam karya bertajuk Empat Kesultanan dan Peradaban Maluku Utara, yang disebutnya sebagai karya monumental ICMI bagi daerah dan bangsa. Buku tersebut rencananya akan diserahkan kepada ICMI Pusat untuk kemudian diteruskan ke Perpustakaan Nasional serta sejumlah perpustakaan terkemuka di Indonesia.

“Olehnya itu kami berharap Pelantikan ICMI Orda Haltim ini dapat menjadi momentum penguatan peran cendekiawan Muslim dalam pembangunan daerah, khususnya melalui penguatan riset, pengembangan ilmu pengetahuan, serta pelestarian identitas sejarah dan kebudayaan Malut,” tutup Ayahanda Kace.

Publikmalut.com
Editor