Supanji Tawari (penulis).

Waktu seolah berhenti berdetak saat jari-jariku menyentuh ujung sajadah itu. Kainnya sudah tidak lagi sehalus saat pertama kali kau berikan padaku, serat-seratnya mulai menipis, dihiasi noda-noda samar yang menjadi saksi bisu berapa kali aku bersujud di atasnya, berapa kali aku menyebut namamu di antara doa-doa yang terbisik.

Sajadah ini adalah hadiah terakhir darimu, sebelum kau pergi meninggalkan kota ini, sebelum takdir memisahkan kita dengan jarak yang seolah tak berujung. Kau memberikannya sambil tersenyum, matamu berbinar seolah kau tahu benda sederhana ini akan menjadi jembatan satu-satunya yang menghubungkan kita saat kau jauh nanti. “Setiap kali kau bersujud, ingatlah bahwa di tempat yang jauh, aku pun sedang melakukan hal yang sama, berdoa agar kita bisa dipersatukan kembali,” begitu katamu waktu itu. Kata-kata yang dulu terdengar penuh harapan, kini terasa seperti pisau yang menyayat hati setiap kali teringat kembali.

Hari ini, seperti biasa, aku membentangkannya di sudut kamar, tempat yang menjadi saksi segala rasa rindu dan doa yang tak pernah habis. Saat aku merapikan ujungnya yang sedikit terlipat, jari-jariku menyentuh sesuatu yang keras dan terselip di antara lipatan kain yang paling dalam. Sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Dengan hati-hati, aku membukanya perlahan. Sebuah kertas kecil, terlipat rapi berkali-kali hingga menjadi seukuran kuku jari. Warnanya sudah memudar, ujung-ujungnya agak rapuh dimakan waktu, seolah sudah lama tersembunyi di sana, menunggu waktu yang tepat untuk ditemukan. Jantungku berdegup kencang, ada rasa penasaran bercampur takut yang tiba-tiba memenuhi dada.

Aku membuka lipatan kertas itu perlahan. Tulisan tanganmu. Tulisan yang sangat aku kenal, rapi dan miring ke kanan, sama seperti saat kau dulu menuliskan pesan-pesan kecil di secarik kertas dan menyelipkannya di buku catatanku. Tinta hitamnya sudah mulai memudar, tapi setiap huruf masih bisa terbaca dengan jelas, seolah kau baru saja menuliskannya kemarin sore.

“Jika kau membaca ini, berarti aku sudah pergi, dan kau sedang merindukanku. Maafkan aku yang harus pergi lebih dulu, maafkan aku yang tak bisa memenuhi janji untuk selalu berada di sisimu. Aku menyelipkan ini di sini karena aku tahu, sajadah ini adalah tempat paling suci dan paling dekat dengan hatimu. Aku ingin cintaku tidak hanya ada di dalam ingatanmu, tapi juga di setiap sujudmu, di setiap doamu. Aku mungkin tak bisa ada di sampingmu secara raga, tapi cintaku akan selalu ada, terikat dalam setiap benang kain ini, mengalir bersama setiap air mata yang jatuh di atasnya. Bahwa di mana pun aku berada, di langit mana pun aku berpijak, cintaku padamu tidak akan pernah berubah. Tetaplah bersujud, tetaplah berdoa, karena doa dari sajadah ini adalah hal terindah yang selalu aku nantikan.”

Air mata menetes jatuh tepat di atas tulisan itu, membuat satu huruf sedikit melebur. Aku duduk bersila di sana, memeluk kertas kecil itu di dada, sementara tanganku masih menggenggam ujung sajadah yang kini terasa lebih hangat dari biasanya. Selama ini aku mengira kau pergi membawa semua rasa dan kenangan kita, aku mengira hanya aku yang tersisa dengan segala rindu yang berat ini. Ternyata kau meninggalkan pesan ini, menyelipkannya di tempat yang paling aku percayai, di tempat yang paling sering menjadi saksi doaku untukmu.

Di ujung sajadah ini, aku menemukan kembali sisa-sisa cintamu yang utuh. Bukan sekadar kenangan, tapi sebuah janji yang tersimpan rapi, menunggu ditemukan saat aku paling membutuhkannya. Kau benar, cinta ini tidak pernah hilang. Ia hanya tersembunyi, menunggu waktu yang tepat untuk mengingatkanku bahwa meski raga kita terpisah, hati kita tetap bersatu dalam setiap sujud dan doa yang sama.

Sekarang aku tahu, setiap kali aku membentangkan sajadah ini, aku tidak pernah benar-benar sendiri. Di ujung kain ini, di sela-sela lipatannya, kau masih ada, menitipkan pesan cinta yang abadi, mengingatkanku bahwa rindu ini akan selalu ada, dan doa kita suatu hari nanti akan sampai pada tujuan yang sama: dipersatukan kembali, dalam cara yang paling indah, di waktu yang paling tepat.

Dan di ujung sajadah ini, untuk kesekian kalinya, aku bersujud. Kali ini bukan hanya dengan rindu, tapi dengan keyakinan baru, bahwa cintamu masih ada di sini, menemaniku berdoa, menungguku pulang, dan menjagaku sampai kita bertemu lagi.

Publikmalut.com
Editor