Oleh: Supanji Tawari

Tidak ada lagi jarak yang membentang, tidak ada lagi waktu yang terbuang sia-sia. Dua insan yang pernah terpisah begitu lama, terpisah oleh kesalahan, ujian, dan takdir yang tak terduga, akhirnya dipertemukan kembali oleh kehendak Allah SWT. Pertemuan itu terjadi di sebuah tempat suci yang kelak dikenal dunia sebagai Jabal Rahmah—Gunung Kasih Sayang, saksi bisu kisah cinta yang tak pernah benar-benar hilang.

Air mata yang mengalir saat itu bukan lagi air mata penyesalan atau rasa sakit karena perpisahan. Itu adalah tangisan syukur, tangisan yang lahir dari hati yang akhirnya menemukan kembali separuh jiwanya setelah menempuh perjalanan panjang dan berliku. Tiada kata yang sanggup menggambarkan betapa dalamnya rasa yang menyelimuti hati mereka, atau betapa beratnya jalan yang telah dilalui—hingga di detik itu, Allah mengabulkan segala doa yang terpanjatkan dengan penuh harap bertahun-tahun lamanya.

Di puncak kasih sayang itu, mereka tidak hanya saling menemukan satu sama lain. Lebih dari itu, mereka menemukan makna sejati di balik segala peristiwa yang pernah terjadi. Kesalahan yang dulu memisahkan mereka ternyata bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalanan pulang kembali kepada Sang Pencipta. Mereka pun sadar sepenuhnya: rahmat Allah jauh lebih luas dan besar dibandingkan segala dosa dan kekhilafan yang pernah mereka perbuat.

Jabal Rahmah kini berdiri tegak sebagai bukti abadi: cinta yang dibangun di atas landasan ketaatan tidak akan pernah musnah begitu saja. Cinta itu mungkin diuji dengan jarak, dipisahkan oleh keadaan, bahkan hampir hancur karena kelalaian manusiawi. Namun, jika disertai dengan taubat yang tulus dan perbaikan diri, Allah pasti akan menyatukan kembali dua hati itu dengan cara yang paling indah, di waktu yang tepat, dan melalui jalan yang tak pernah terbayangkan oleh akal manusia.

Seperti kisah Adam dan Hawa yang saling mencari di bumi ini, akhirnya cinta yang bersumber dari imanlah yang mempertemukan mereka kembali—bukan hanya sebagai pasangan, tetapi sebagai dua jiwa yang telah belajar, bertaubat, dan tumbuh dalam kasih sayang Ilahi. Di sinilah, di Jabal Rahmah, kisah mereka ditulis ulang: lebih kuat, lebih suci, dan penuh makna.

Publikmalut.com
Editor