Oleh: Fanesa Indri Mataga
Ketua DPD PUAN Pulau Morotai

Dalam perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia, dua nilai besar senantiasa berjalan beriringan, saling menguatkan, dan menjadi landasan gerak kemajuan: Pancasila sebagai dasar negara, dan semangat emansipasi perempuan sebagai kekuatan penggerak peradaban. Hari ini, saat bangsa kembali mengenang kelahiran ideologi negara, pertanyaan mendasar kembali mengemuka: sejauh mana nilai-nilai Pancasila telah menjadi rumah bagi kemajuan kedudukan perempuan Indonesia, dan bagaimana emansipasi perempuan menjadi bukti nyata pengamalan sila-sila luhur tersebut?

Pancasila, yang digali dari bumi pertiwi dan nilai-nilai luhur budaya bangsa, pada hakikatnya mengandung semangat kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan yang adil. Sila kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, menjadi landasan utama bahwa setiap manusia—tanpa memandang jenis kelamin—memiliki martabat, hak, dan kedudukan yang sama di mata negara dan hukum. Sila kelima tentang “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, menegaskan bahwa kesejahteraan dan kesempatan maju harus bisa dirasakan oleh seluruh warga negara, termasuk kaum perempuan, tanpa ada pembatasan atau diskriminasi.

Sejarah mencatat bahwa perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia tidak berjalan terpisah dari perjuangan kebangsaan. Tokoh seperti R.A. Kartini, yang kini diakui sebagai pelopor kebangkitan perempuan, sejatinya tidak hanya berjuang bagi hak-hak kaumnya, tetapi berjuang demi kemajuan seluruh bangsa. Pemikirannya tentang pendidikan, kebebasan, dan kesetaraan sejalan dengan cita-cita luhur yang kemudian dirumuskan dalam Pancasila. Peran perempuan juga tercatat tebal dalam masa perjuangan kemerdekaan: sebagai pejuang, pendidik, pengabdi, hingga penggerak ekonomi rakyat, membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia dan pembangunannya tidak mungkin terwujud tanpa peran aktif perempuan.

Hingga hari ini, semangat itu terus berlanjut. Di berbagai sektor kehidupan, perempuan Indonesia semakin tampil menonjol. Di ruang pemerintahan, kursi-kursi strategis kini diduduki oleh perempuan yang membawa gagasan baru; di dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, perempuan menjadi tenaga pengajar dan peneliti terdepan; di dunia usaha dan ekonomi kreatif, jutaan perempuan menjadi tulang punggung perekonomian keluarga dan daerah; bahkan di ruang publik dan masyarakat sipil, suara perempuan menjadi penyeimbang yang menjaga keberagaman dan persatuan bangsa.

Namun, di tengah kemajuan yang telah dicapai, masih ada ruang untuk terus melangkah. Tantangan seperti kesenjangan akses di daerah terpencil, beban ganda yang masih sering dipikul, hingga sisa-sisa budaya yang membatasi ruang gerak perempuan, menjadi catatan penting. Di sinilah nilai Pancasila kembali menjadi kompas. Pengamalan sila ketiga “Persatuan Indonesia” menuntut kita untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun golongan atau kelompok yang tertinggal, termasuk perempuan, karena persatuan akan kokoh jika seluruh elemen bangsa diberi ruang yang setara untuk berkembang.

Para pengamat sosial menilai bahwa emansipasi perempuan bukanlah gerakan yang memisahkan diri dari nilai bangsa, melainkan bentuk paling nyata dari pengamalan Pancasila. “Ketika perempuan diberi hak yang sama, kesempatan yang sama, dan perlindungan yang sama, sesungguhnya kita sedang membangun masyarakat yang beradab, adil, dan bersatu—persis seperti yang dicita-citakan Pancasila.

Menjelang masa depan, pertemuan antara Pancasila dan emansipasi perempuan harus terus diperkuat. Pancasila menjadi payung yang melindungi hak dan kedudukan perempuan, sementara kemajuan dan peran aktif perempuan menjadi bukti hidup bahwa nilai-nilai Pancasila bukan sekadar tulisan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar, tetapi jiwa yang menggerakkan setiap langkah kemajuan bangsa.

Sebagai bangsa yang besar, Indonesia memahami bahwa kemajuan sejati hanya akan tercapai jika kemajuan itu dirasakan oleh semua anak bangsa—tanpa membedakan laki-laki dan perempuan. Di bawah naungan Pancasila, emansipasi perempuan adalah perjalanan menuju Indonesia yang lebih adil, lebih beradab, dan lebih makmur bagi seluruh rakyatnya.

Publikmalut.com
Editor