Oleh: Herlina
Di balik keteguhan seorang pemimpin besar bernama Soeharto, berdiri sosok perempuan berhati lembut namun berjiwa baja, Siti Hartinah, yang lebih dikenal dengan nama Ibu Tien Soeharto.
la bukan sekadar lbu Negara, tetapi
cerminan kasih seorang istri, kebijaksanaan seorang ibu, dan ketulusan seorang perempuan Indonesia yang namanya terukir dalam lembar sejarah bangsa.
Lahir pada 23 Agustus 1923 di Jaten,
Kadipatèn Mangkunegaran, Hindia
Belanda, Ibu Tien tumbuh dalam lingkungan bangsawan Jawa. Ayahnya, K.P.H. Soemoharjomo, adalah seorang pejabat Mangkunegaran, sedangkan ibunya, K.R.Ay. Hatmanti Hatmohoedojo, dikenal berhati halus dan bijak.
Dari rahim kebangsawanan itulah
lahir seorang gadis yang memadukan
keanggunan dengan keteguhan – lembut dalam tutur, tegas dalam pendirian, dan luas dalam pandangan.
Tahun 1947, di tengah pergolakan bangsa yang baru merdeka, ia mengikat janji suci dengan seorang perwira muda bernama Soeharto. Sejak saat itu, langkahnya menyatu dalam perjalanan panjang seorang pemimpin bangsa. Dari medan perjuangan hingga ke Istana Negara, lbu Tien senantiasa hadir sebagai pendamping yang setia, penenang di kala badai, penopang di kala lelah.
Sebagai lbu Negara Republik Indonesia (1967-1996), lbu Tien menjadi sosok yang dikenal karena kasihnya pada rakyat dan kepeduliannya pada kebudayaan, pendidikan, serta kesejahteraan bangsa. Dari hatinya yang mencintai tanah air lahir gagasan besar yakni Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sebuah miniatur nusantara yang menegaskan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, tanda cinta yang abadi untuk Indonesia.

“Di balik senyum yang teduh, tersimpan semangat seorang perempuan yang ingin menjaga jati diri bangsanya di tengah arus zaman.
Dalam keluarga, Ibu Tien adalah teladan kasih dan kedisiplinan. Bersama Soeharto, ia dikaruniai enam anak: Tutut, Sigit, Bambang, Titiek, Tommy, dan Mamiek, yang tumbuh di bawah asuhan tangan seorang ibu yang lembut namun penuh prinsip, mengajarkan arti tanggung jawab dan cinta tanah air.
Namun, pada 28 April 1996, bertepatan dengan Hari Raya ldul Adha 1416 H, Indonesia berduka. Sang lbu Bangsa berpulang ke haribaan llahi di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, akibat serangan jantung.
Kepergiannya meninggalkan ruang hening di hati jutaan rakyat. Jenazahnya dimakamkan dengan khidmat di Astana Giribangun, Jawa Tengah, disaksikan oleh para pejabat dan rakyat yang datang memberi hormat terakhir kalinya, bangsa menundukkan kepala bagi sang srikandi yang telah menorehkan bakti.
Upacara pemakaman dipimpin oleh Ketua DPR/MPR Wahono, dengan Kolonel Inf. Getson Manurung sebagai komandan upacara. Sebelumnya, prosesi pelepasan jenazah di Jakarta dipimpin oleh Letjen (Purn) Achmad Tahir, penuh khidmat dan air mata.
Sebagai tanda penghargaan tertinggi atas pengabdian dan cintanya kepada negeri, pada 30 Juli 1996, Presiden Soeharto menganugerahkan kepada sang istri tercinta gelar Pahlawan Nasional.
Penghargaan itu melengkapi deretan bintang kehormatan dari dalam dan luar negeri di antaranya Bintang Republik Indonesia, Orde Santo Olav, Orde Singa Emas Wangsa Nassau, hingga Grand Cross of the Order of Isabella the Catholic.
Kini, nama lbu Tien Soeharto hidup dalam kenangan bangsa seorang perempuan yang dengan kelembutan dan keteguhan, telah menenun cinta menjadi pengabdian, dan menjadikan dirinya Srikandi di sisi Sang Presiden, serta lbu bagi lndonesia.









Tinggalkan Balasan